Sinopsis Film Waiting For Rain (2021)

Diposting pada

Film ini dimulai di malam tanggal 31 Desember 2011, Park Young-ho sedang menunggu seseorang datang dan menanti hujan turun. Di tahun 2003, Young-ho berada di kelas di tahun ketiganya setelah gagal dalam ujian perguruan tinggi.

Seorang guru memberikan challenge kepada mereka jika mereka ingin menjalankan dunia nyata lebih cepat untuk melempar buku ke luar jendela dan mengambil uang yang digantungnya di depan. Namun hanya sedikit yang berhasil dan banyak yang akan gagal.

Saat sedang di kedai, Young-ho makan kue ikan. Dia dihampiri oleh Sujin yang pernah satu kelas di tahun sebelumnya. Sujin meminta Young-ho untuk membayar kue ikan yang dia ambil. Saat berjalan pulang, Sujin bertanya kepada Young-ho apakah dia tahu namanya. Young-ho mengatakan dirinya mengetahuinya.

Tiba di rumah, dia bertemu dengan ayahnya yang merupakan seorang perajin kerajinan kulit dan kakaknya. Kakak Young-ho meminta kepada ayahnya untuk menjual bengkelnya mengingat ini saat menguntungkan 3 kali lipat. Kakak Young-ho juga mengejek Young-ho yang selalu gagal dalam ujian perguruan tinggi. Sehingga ini membuat Young-ho marah.

Di kamar, Young-ho sedang mengerjakan soal matematika yang saat itu berisikan soal gambar pelari. Ini membuatnya mengingat masa lalu saat di sekolah dasar. Ketika dia mengikuti lomba lari namun dia terjauh sehingga melukai tangannya. Saat berada di keran air, seorang anak wanita bernama Soyeon memberikannya lap tangan untuk lukanya.

Saat ini, Young-ho menemui Jong-gook untuk mengambil handphone barunya. Young-ho lalu meminta tolong kepada Jong-gook untuk meminta ibunya yang seorang wakil kepala sekolah untuk mencarikan alamat Soyeon pindah.

Di sekolha, adik So-yeon yaitu So-hee pergi ke sekolah So-yeon untuk mengambil surat yang berasal dari Young-ho yang diperuntukkan untuk So-yeon. So-hee segera pergi ke rumah sakit tempat So-yeon dirawat karena lumpuh.

So-hee membacakan surat Young-ho mengenai apakah dia masih mengingatnya. So-yeon menjawab dengan bel di dekatnya dengan mengatakan bahwa dia tidak mengingatnya.

So-hee menjaga toko buku sastra milik keluarganya, dia selalu ditemani seorang pria yang disebutnya sebagai kutu buku. Kutu Buku hanya menghabiskan waktunya di toko ini. So-hee memintanya untuk mencari teman atau pacar.

Tidak punya teman atau kekasih itu sungguh tragis. Kutu buku mengatakan bahwa tidak punya teman bukanlah tragedi. Dia juga menambahkan bahwa “hari yang cerah tidak selalu pertanda baik. dan hari hujan tidak selalu pertanda buruk.

So-hee menulis surat dengan kata kakaknya bahwa dia tidak mengingatnya. Namun karena beberapa alsan, dia menahannya. sebaliknya So-hee memulai percakapan dengan Young-ho menggunakan nama So-yeon.

Dia juga menetapkan beberapa aturan dasar untuk tidak bertemu langsung atau berusaha saling mengunjungi. Young-ho tidak tahu bahwa gadis yang menulis surat itu bukanlah So-yeon yang sebenarnya.

Suatu ketika, Sujin menyaksikan film di pinggir jalan berjudul Days of Being Wild. Dia dihampiri Young-ho. Sujin mengatakan bahwa dia suka dengan karakternya yang terlihat menangis meskipun dia tertawa.

Sujin mengatakan bahwa kakaknya telah meninggal. Dia lalu mengajak Young-ho untuk menginap dan akan menceritakan kisah hidupnya. Saat di kamar, Young-ho mengatakan bahwa dia lahir dari orang kaya, ayahnya suka bermain dengan wanita lain.

Saat sehari sebelum kematiannya dia memberinya tabungan untuk Sujin. Saat di dekat jendela, Sujin mengajak Young-ho untuk pergi ke Islandia melihat aurora bersama.

Usai menerima hadiah dari laut dari Young-ho, So-hee yang berpura-pura sebagai Suyeon menulis surat bahwa di daerahnya kekeringan, dia merindukan hujan. Young-ho membalas suratnya mengatakan bahwa nampaknya dia menyukai hujan. Young-ho juga mengungkapkan dia senang mendengar suara rintikan hujan sebab itu membuatnya menjadi lebih baik.

So-hee menemui Suyeon. Suyeon mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan Young-ho. Ini mengejutkan So-hee. Keesokan hari, So-hee memutuskan untuk menemui Young-ho. Dia pergi ke bengkel kerajinan kulit ayahnya. Namu Dia tidak menemuinya.

Di saat yang sama Young-ho pergi ke toko buku sastra So-hee tetapi dia tidak menemuinya dia bertemu denga kutu buku yang memberikannya sebuah buku. Mereka yang tentu saja tidak saling bertemu memutuskan pulang ke rumah masing-masing.

Di dalam mobil, Ibu So-hee memberitahunya bahwa dokter memberikan informasi kepadanya mengenai penyakit Suyeon dan waktu kematian Suyeon yang semakin dekat yang tinggal sebulan lagi.

Ini membuat So-hee merasa sedih. Sementara di tempat lain, Young-ho bersama dengan kakaknya memeriksa bangunan ayahnya untuk terakhir kalinya mengingat bangunan ini telah dijual untuk bisnis saham kakaknya.

Di atap gedung Young-ho bersama dengan Sujin yang sedang memegang buku sastra sambil menulis bagian belakang buku itu.. Young-ho mengatakan kepada Sujin bahwa memutuskan menghentikan pertemuan mereka sampa sini. Sebab pikirannya tidak bisa mengikuti Sujin.

Young-ho pergi, Sujin merasa patah hati saat itu dia sedang menulis di buku tersebut dengan ucapan “kau harus mencintai”.

Young-ho menerima surat dengan foto Suyeon nampak dari samping. Young-ho merasa bahagia. Young-ho membalas surat bahwa dia telah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu bahwa dia telah berbohong dalam sesuatu.

Jika dia diberikan kesempatan, dia ingin bertemu dengannya tanggal 31 Desember di depan sekolah mereka yang kini telah hilang menjadi taman. Dimana di surat itu tertulis nomor handphone Young-ho.

Di rumah sakit, Suyeon mengatakan kepada So-hee bahwa dia ingin hidup. Suyeon keluar dengan menangis. Dia juga mengirim surat mengatakan bahwa dia juga telah berbohong sesuatu kepadanya. Dia meminta Young-ho bertemu di tanggal 31 Desember saat hujan turun.

Di Busan, So-yen meninggal karena penyakitnya. Usai kematiannya So-hee mencoba menulis surat kepada Young-ho bahwa dia yang telah meuslis surat atas nama So-yeon. Namun dia tidak mempunyai cukup keberanian untuk mengirim surat itu.

Malam hari di perpustakaan, Young-ho mengatakan kepada Sujin bahwa dia memutuskan untuk pergi Ke Jepang untuk belajar perdagangan. Saat Young-ho hendak pergi, Sujin bertnaya apa perbedaan dia dengan orang yang disukai Young-ho. Young-ho mengatakan bahwa Sujin adalah bintang dan dia seperti hujan. Sujin menyala te rang sementara Suyeon memberinya kenyamanan.

Saat Young-ho benar-benar pergi, Sujin memanggil Young-ho dari lantai atas, Dia meminta Young-ho mengirimkan alamat nanti dan menjaga dirinya baik-baik.

Tahun 2011, Young-ho yang kin menjadi pengrajin payung menemui kakaknya yang telah bercerai. Saat mereka pulang, Young-ho memberikan kakaknya payung yang bertuliskan I Love in Seoul. Usai itu dia menemui ayahnya di bengkel barunya.

Young-ho menemui Sujin, dia memberikan payung untuknya. Sujin membukanya, dia terkejut melihat ke atas yang menggambarkan aurora. Sujin menutupi wajahnya yang menagnis, mengatakan kepada Young-ho apakah kamu tahu mengapa aku mencintaimu. Karna kamu telrihat menagnis bahkan saat tertawa. Sujin lalu berterima kasih atas payungnya dan memutuskan untuk pergi.

Di masa lalu, Sujin memberi tahu kepada Young-ho mengapa kakaknya meninggal. kakaknya meninggal ketika di kelas 12 saat itu nilai anjlok akibat ditolak cintanya dan dia bunuh diri. Saat ini, Young-ho mendapatkan informasi bahwa So-yeon telah meninggal di tahun 2003. Ini menghancurkan Young-ho.

Di tahun 2003, Kutu buku menemui Suyeon di rumah sakit atas perintah Ibu Suyen. Kutu buku menemui Suyeon bahwa dia akan membacakan buku untuknya. Saat itu suyeon meminta menghubungi Young-ho dengan nomor yang tertera di surat.

Mereka lalu menghubunginya di kelas Young-ho memutuskan melempar buku keluar dan mengambil uang yang digantung. Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan ujian perguruan tingginya. Saat itu handphone-nya berdering, itu dari So-yeon yang dibantu oleh kutu buku.

Young-ho seketika menganggap itu adalah Suyeon. Suyeon tentu saja tidak bicara namun Young-ho terus bicara mengira Suyeon memang tidak ingin bicara padanya. Dia mengatakna bahwa itu tidak masalah jika dia tidak mau bicara tetapi karrena akau meyukaimu aku akan akan menunggumu.

Setiap tahun tepat tanggal 31 Desember Young-ho menunggu di taman namun hujan tak kunjung datang. HIngga tepat pada 31 Desember 2011, dia memutuskan meninggalkan surat terakhir di bangku taman dan mengakhiri penantiannya selamanya.

Namun saat dia pergi Young-ho berlari kembali ke bangku usai hujan turun. Dia menunggu So-yeon meskipun berita kematian telah sampai kepadanya sebelumya. Sementara di jalan raya Seoul-busan, So-hee yang bingung merasakan hujan turun. Dia mengambil belokan kiri menuju Seoul untuk bertemu dengan Young-ho.